Allahjuga menjanjikan akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu sampai beberapa derajat (Q.S Al-Mujadilah: 11). Demikianlah kedudukan dan keistimewaan orang yang berilmu, ia memperoleh kemuliaan dari sisi Allah, di dunia dan kelak di akhirat. Dikutip dari halaman Mutiaraislam, berikut Ayat-ayat Al-Quran tentang ilmu.
rizkahanapratiiwi rizkahanapratiiwi B. Arab Sekolah Menengah Atas terjawab Iklan Iklan Syubbana Syubbana 1 Allah membezakan dan mengangkat darjat orang yang berilmu2 Orang yang berilmu sentiasa dijadikan rujukan3 Ilmu satu-satunya warisan Nabi4 Beramal dengan cara betul dan ditakuti syaitan5 Orang yang berilmu mendapat kebaikan Iklan Iklan adinda237 adinda237 1. akan ditingkatkan derajatnya2. niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu Iklan Iklan Pertanyaan baru di B. Arab pertanyaan tentang zakat maalmohon bantuannya nya kak​ 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan fiqh? dan apa itu "fiqh ibadah" secara lughat dan istilah serta pembagiannya! dan juga pembagian dalam ibadah it … u sendiri!2. Jelaskan mengapa orang yang berpuasa tidak diperbolehkan jima' disiang hari pada saat melaksanakan ibadah puasa dan apa dasarnya? seandainya terjadi jima' bagi orang yang berpuasa, bagaimana cara membayar kifaratnya?3. kapan kewajiban membayar zakat emas dan perak yang dimiliki seseorang? jelaskan!4. kapan bermalam di Mina dan Muzdalifah dapat dilaksanakan pada ibadah haji? jelaskan! dan apa dalilnya?5. apa yang dimaksud dengan Dam dalam pelaksanaan ibadah haji? sebutkan pembagiannya?​ Kisah perjalanan hidup nabi 5. bagaimana penyelesaian sengketa bisnis berdasarkan prinsip-prinsip fiqh dan ushul fiqh dapat di implementasikan dalam konteks ekonomi dan bisnis in … ternasional?​ 2. sejauh mana sistem ekonomi islam dapat mengatasi tantangan dan kompleksitas ekonomi global moderen? ​ Sebelumnya Berikutnya Iklan
Danapabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah: 11). Keempat, Orang yang berilmu berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Dalam surat Az-zumar ayat 9 Allah berfirman :
Kedudukan Orang-Orang Berilmu Syekh Habib Muhammad Ismail mengatakan bahwa medan dakwah dewasa ini menghadapi tantangan yang semakin berat. Hal ini karena akhlak buruk tumbuh dengan sangat pesat, terutama mereka yang menganut paham at-tarbiyah pendidikan beragam. Hal ini memunculkan fenomena berbahaya, seperti anak muda yang tidak mau menghormati orang yang lebih tua, orang-orang pandir yang berani melangkahi ulama, dan para pelajar yang terlibat tawuran. Mereka saling bermusuhan, melupakan persaudaraan, tidak santun, tidak mau saling memaafkan, dan tidak mau bersabar. Mereka bersikap lebih pandir dari seorang yang tidak berpendidikan sama sekali. Kini, para pelajar banyak menyelam ke dalam lumpur celaan, pertikaian, dan perkelahian. Bahkan, di antara mereka ada pelajar yang berani menentang para ulama ternama. Hal ini karena mereka tidak sadar bahwa setan sedang meniupkan api permusuhan. Mereka mengira bahwa mereka sedang melakukan sesuatu dibenarkan agama. Sungguh, seseorang yang menjadikan lidah sebagai pengontrol tingkah laku sangat disayang Tuhan. Karena itu, amal-amal berikutnya ia jadikan sebagai bahan evaluasi atas semua ucapannya. Evaluasi tersebut mencakup dua pikiran utama sebagai berikut 1. Akhlak mulia kepada sesama Muslim. Hal ini dilakukan dengan menjaga kehormatan dan menjauhkan orang lain dari hal-hal yang dapat menyakitinya, seperti pembicaraan aib yang kini kian santer terdengar. 2. Akhlak mulia kepada ulama. Hal ini dilakukan dengan menjaga nama baik mereka, mengenal dan mengakui kemampuan dan kelebihan mereka, serta menghindarkan mereka dari fitnah dan pencemaran nama baik. Poin kedua patut diperhatikan lebih mendalam. Poin pertama merupakan pendahuluan karena ulama memiliki dua hak, yaitu sebagai seorang Muslim dan sebagai seorang yang memiliki kelebihan, dalam hal ini kelebihan ilmu. Pola ini senada dengan sikap Allah SWT yang telah lebih mengutamakan kaum Muslimin dibandingkan dengan umat lain, kemudian Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu di antara kaum Muslimin. Allah SWT berfirman, “… niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” QS. Al-Mujadilah 11. Allah SWT juga berfirman, “… katakanlah, Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui’?” QS. Az-Zumar 9. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Di sisi lain, jika Allah SWT mengharamkan sesuatu, bisa jadi pengharamannya berbeda dengan sesuatu yang lain. Satu kesalahan, misalnya, bisa menarik dosa yang lebih besar dibandingkan dengan kesalahan yang lain. Hal ini dihitung berdasarkan banyaknya pelanggaran. Dengan begitu, azab dan hukuman satu dosa bisa berlipat ganda. Menzalimi diri sendiri dengan berbuat maksiat dilarang oleh agama di mana pun dan kapan pun. Akan tetapi, pengharaman ini akan lebih tegas pada bulan-bulan haram Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Mengenai pengharaman ini, Allah SWT berfirman, “Diantaranya ada empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu.” QS. At-Taubah 36. Rasulullah SAW memberikan contoh lain dalam sabda beliau, “Berzina dengan sepuluh orang wanita lebih ringan bagi seseorang daripada berzina dengan seorang wanita tetangganya. Mencuri sepuluh rumah lebih ringan baginya daripada mencuri satu rumah milik tetangganya.” HR. Ahmad, hadis sahih Allah SWT juga berfirman, “Barangsiapa mengerjakan ibadah dalam bulan-bulan itu, maka janganlah dia berkata jorok rafats, berbuat maksiat dan bertengkar dalam melakukan ibadah haji.” QS. Al-Baqarah 197. Hukuman diat karena membunuh dan menyiksa pada bulan-bulan suci tentu lebih berat. Hukuman diat karena membunuh kerabat yang masih ada hubungan darah juga lebih berat. Sungguh, orang yang menyakiti dan merendahkan kehormatan ulama telah melakukan kesalahan berat. Hal ini karena kehormatan ulama melebihi seorang Muslim biasa. Selain memiliki hak yang sama dengan seorang Muslim, ulama memiliki hak sebagai orang tua dan para pembesar. Demikian juga dengan membicarakan aib para ulama dan orang-orang yang menyampaikan risalah Alquran tentu temasuk kedalam dosa besar.
AllahSWT meletakkan kedudukan orang berilmu lebih tinggi dan mulia di sisi-Nya. Terdapat beberapa ayat dalam al-Quran yang secara jelas menyatakan kelebihan orang yang berilmu daripada yang lainnya. Antaranya firman Allah SWT yang bermaksud: "Allah meninggikan darjat orang yang beriman di antara kamu dan orang yang diberi ilmu pengetahuan agama (daripada kalangan kamu) beberapa darjat.

Kesabaran dalam Menuntut Ilmu Ilustrasi/Hidayatuna Yogyakarta – Islam sangat menghargai orang yang mencari ilmu karena Allah pun akan meninggikan kedudukan orang-orang yang berilmu. Allah Swt. berfirman dalam Alquranيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” al-Mujadilah ayat 11Benar-benar mulia kedudukan orang yang berilmu dalam Islam. Bagi orang berilmu, Allah juga telah mempersiapkan surga. Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” HR. MuslimSemoga semangat mencari ilmu yang kita miliki mewarisi para Sahabat wanita di masa Nabi, sebagaimana dikutip dari lama status Facebook Kiai Ma’ruf Khozin dalam hadis berikut iniﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ اﻟﺨﺪﺭﻱ ﻗﺎﻟﺖ اﻟﻨﺴﺎء ﻟﻠﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻏﻠﺒﻨﺎ ﻋﻠﻴﻚ اﻟﺮﺟﺎﻝ، ﻓﺎﺟﻌﻞ ﻟﻨﺎ ﻳﻮﻣﺎ ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻚ، ﻓﻮﻋﺪﻫﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻟﻘﻴﻬﻦ ﻓﻴﻪ، ﻓﻮﻋﻈﻬﻦ ﻭﺃﻣﺮﻫﻦDari Abu Sa’id Al Khudri bahwa para wanita bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam“Kami dikalahkan oleh laki-laki terhadapmu. Jadikanlah 1 hari anda untuk kami”, kemudian Nabi menjadikan 1 hari untuk para wanita, Nabi memberi wejangan dan perintah kepada sahabat perempuan.” HR. Bukhariﻭﻗﺎﻟﺖ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﻧﻌﻢ النساء ﻧﺴﺎء اﻷﻧﺼﺎﺭ ﻟﻢ ﻳﻤﻨﻌﻬﻦ اﻟﺤﻴﺎء ﺃﻥ ﻳﺘﻔﻘﻬﻦ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ»Aisyh berkata “Sebaik-baik perempuan adalah perempuan Sahabat Ansor. Mereka tidak malu belajar agama.” Sahih Bukhari secara muallaqBegitu mulianya kedudukan orang berilmu sehingga umat Muslim pun sangat dianjurkan untuk mencari ilmu dan mengamalkannya dalam demikian kedudukan Anda bukan sekadar mulia di hadapan Sang pencipta, akan tetapi juga di mata sosial atau manusia lainnya. Wallahu’alam. []

Baiklahpemirsa pengunjung blog terjemah kitab Durratun Nashihin yang saya muliakan, kali ini saya akan membahas tentang kedudukan orang yang berilmu, banyak sekali hadits yang berkenaan dengan keutamaan orang yang berilmu salah satunya adalah sesuai sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi" fadllul 'alim 'alal 'abid ka fadllii 'ala adnaakum" yang artinya: " keutamaan Orang alim atas seorang ahli ibadah seperti keutamaan saya atas seseorang yang paling rendah diantara kamu" JawabanIlmu adalah suatu hal yg sangat mulia. Karena dgn ilmu derajat kita ditinggikan, dan dgn ilmu juga kita mengetahui mana yg benar dan mana yg batil, dan yg paling mulia dari itu semua adalah Allah mudah kan kita untuk masuk kedalam surga nya sebagaimana Rasulullah bersabdaمن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهلا الله له به طريقا الى الجنةyg artinya Barangsiapa yg menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan bagiannya jalan menuju tentang kedudukan seorang yg berilmu, tentu sangatlah mulia karena ia dgn ilmu tersebut yg telah Allah karuniai, memberi pengarahan Kpd manusia untuk menempuh jalan yg lurus dan menjauhi keburukan dalam agama Islam yg ber'akidah singkat. Semoga membantu.

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Fathir [35]: 28) Dari Abu Darda' r.a. berkata: "saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda, ' Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya kesurga.

Oleh Muhammad Syafii Kudo ISLAM adalah agama wahyu yang sangat menjunjung tinggi kedudukan ilmu dan yang terkait dengannya seperti para penempuhnya Tholabul Ilm maupun pengajarnya Aalim. Allah Swt berfirman, شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan yang demikian itu. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” QS. Ali Imran 18. DI dalam ayat tersebut Allah Swt memulai kesaksian dengan Diri Nya, diikuti dengan para malaikat Nya lalu seterusnya dengan ahli ilmu. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan ilmu dan para ahli ilmu di sisi Allah Swt. Dalam beberapa hadis yang masyhur juga dijelaskan bagaimana mulianya kedudukan ahli ilmu dalam pandangan Islam. Rasulullah Saw bersabda, العلماء ورثۃ الأنبياء “Para ulama adalah pewaris para Nabi.” HR. Bukhari. Beliau Saw juga bersabda, فضل العالم علی العابد كفضلي علی أدنكم رجلاً “Keutamaan orang alim atas seorang abid ibarat kelebihanku atas orang yang terbawah di kalangan kamu.” HR. Thobroni. Kedudukan ilmu di dalam Islam memang sangat vital bahkan merupakan fardhu Ain bagi tiap Muslim untuk mencarinya. Hal ini seperti yang termaktub di dalam beberapa riwayat hadis. Rasulullah SAW bersabda, طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة,و طالب العلم يستغفر له كل شيء حتى الحوت في البحر “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang Islam laki-laki dan perempuan. Orang yang mencari ilmu itu akan dimintakan ampun oleh setiap sesuatu yang ada di muka bumi ini sampai ikan-ikan yang berada di lautan”.HR. Thobroni. Bahkan saking tegasnya Islam dalam memposisikan kedudukan ilmu hingga dikatakan bahwasannya manusia itu dibagi menjadi dua golongan saja yakni orang yang mengajarkan ilmu dan yang belajar ilmu. Di luar kedua golongan itu adalah kelompok yang tidak dianggap. Rasulullah Saw bersabda, النّاس رجلان عالم و متعلم وساءر هم همج “Manusia itu ada dua golongan ; Orang alim dan penuntut ilmu, lain dari mereka adalah golongan yang hina-dina.” Keutamaan ilmu juga dapat dilihat dalam kisah burung Hud-hud ketika ditanya oleh Nabi Sulaiman As. Hud-hud hanyalah seekor burung kerdil di hadapan Nabi Sulaiman As yang berderajat tinggi lagi gagah perkasa. Namun dengan kemuliaan ilmu, sedikit pun Hud-hud tak gentar dengan ancaman Nabi Sulaiman As, bahkan dengan tenang dia menjawab, فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. “QS. An-Naml 22. Ini adalah bukti bahwa ilmu adalah ruh di dalam Islam yang tanpanya hukum-hukum Allah tentu tidak akan bisa diketahui dan dijalankan. Bahkan disebutkan secara tegas bahwa mencari ilmu adalah sebuah kemuliaan. Adabul Muridin Lil Imam An Najeeb Dhiya’uddin As Suhrawardiy, Terj. Hal 31 Bab Fadhilah Ilmu. Rasulullah Saw menjelaskan bahwasannya dunia dan seisinya itu terlaknat kecuali pada beberapa hal, seperti yang tertera di dalam hadis, أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَـا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَـافِيْـهَـا إِلاَّ ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالاَهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَـلِّـمٌ . “Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, seorang alim, dan seorang yang menuntut ilmu.” Hadits hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi. Ilmu juga menjadi tolak ukur seseorang apakah dikehendaki menjadi baik atau buruk oleh Allah Swt. Tentu ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang bisa menghantarkan seorang hamba untuk mengenal akan Rabb nya yaitu ilmu agama Islam. Rasulullah Saw bersabda, مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ “Barangsiapa dikehendaki Allah mendapat kebaikan, maka akan dipahamkan ia dalam masalah agama.” HR. Bukhari. Dipahamkan dalam hal ini maksudnya adalah dipahamkan dalam masalah ilmu agama baik yang diperolah secara kasbi proses belajar pada guru dan membaca kitab maupun secara wahby pemberian langsung dari Allah alias Ladunni. Bahaya Ilmu Yang Tidak Bermanfaat Dalam pandangan Islam secara garis besar ilmu itu dibagi menjadi dua yakni ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat. Di dalam pembukaan kitab Ayyuhal Walad karya Imam Ghazali Rhm. diceritakan bagaimana murid beliau menuliskan keluhannya kepada Imam Ghazali. Sang murid yang sudah belajar lama dan berkhidmah kepada Imam Ghozali itu sudah menguasai berbagai ilmu yang detail yang tidak bisa dikuasai oleh orang awam dan dia pun memiliki kekuatan jiwa yang sudah teruji. Namun sang murid suatu saat bertafakur dan merenungi keadaan dirinya, dia khawatir akan keadaan dirinya. Dia berkata,” Sungguh aku telah membaca bermacam-macam ilmu dan telah kucurahkan umurku untuk belajar dan menghasilkan ilmu, saat ini yang selayaknya aku ketahui adalah, ilmu yang mana yang bermanfaat bagiku, serta menjadi penghiburku di dalam kuburku, dan ilmu mana yang tidak bermanfaat bagiku sehingga akan kami tinggalkan, seperti saّbda Nabi Muhammad Saw, اللهمّا إنّي أعوذ بك منۡ علۡم لا ينۡفعۡ “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” Mengapa murid Imam Ghozali yang sudah menjadi ulama dan menguasai berbagai ilmu termasuk yang tidak bisa dikuasai oleh orang awam itu masih memiliki kekhawatiran sedemikian rupa? Alasannya adalah karena dia takut kepada ancaman Allah Swt, sebab disebutkan di dalam hadis bahwa Rasulullah Saw bersabda, اشدُّ النَّس عذاباً يوم القيامۃ عالمٌ لمۡ ينفعۡه اﷲ بعلمه “Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah ahli ilmu yang Allah tidak memberi manfaat atas ilmunya.” HR. Baihaqi. Jika timbul pertanyaan di benak kita bagaimana bisa seseorang yang dikatakan ahli ilmu malah disiksa paling keras oleb Allah Swt? Jawabannya adalah karena dia tidak mengamalkan ilmunya atau ilmunya tidak bermanfaat atau bisa pula dia memakai ilmunya itu untuk mendurhakai Allah Swt dengan jalan menyesatkan manusia dsb. Rasulullah Saw bersabda, من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله الا بعدا “Barangsiapa yang bertambah ilmunya dan tidak bertambah petunjuk baginya maka tidak bertambah kepadanya kecuali makin jauh dari Allah.” Makin jauh di sini artinya adalah jauh dari rahmat Allah dan bukan maksudnya semakin jauh secara fisik sebab Allah tidak boleh disifati dengan sifat makhluk Tajsim dan Tasybih karena Allah berbeda dengan makhluk. Dan juga Allah tidak butuh kepada arah dan tempat serta ruang dan waktu. Beliau Saw juga bersabda, العلم علمان علم على اللسان فذلك حجة الله تعالى على خلقه، وعلم في القلب فذلك العلم النافع “llmu pengetahuan itu ada dua ilmu pada lisan, yaitu ilmu yang menjadi alasan bagi Allah atas makhluk-Nya dan ilmu pada hati, yaitu ilmu yang bermanfa’at”HR. Tirmidzi. Ilmu yang tidak bermanfaat bisa juga muncul dikarenakan salah dalam niat ketika mencarinya. Sehingga ilmu yang didapat bukannya menjadikan bermanfaat namun malah menjadi mafsadat dan mudharat bagi pemiliknya dan orang lain. Hal ini banyak disinggung di dalam kitab-kitab yang khusus membahas masalah adab dalam mencari ilmu seperti kitab Ta’lim Al Muta’alim karya Syekh Az Zarnuji dan kitab Adabul Alim Wal Muta’alim karya Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Rasulullah Saw pernah mengingatkan perihal bahaya orang-orang yang salah niat dalam mencari ilmu dalam sabdanya, لا تتعلموا العلم لتباهوا به العلماء ولتماروا به السفهاء ولتصرفوا به وجوه الناس إليكم فمن فعل ذلك فهو في النار “Janganlah engkau mempelajari ilmu pengetahuan untuk bersombong-sombong dengan sesama orang berilmu, untuk bertengkar dengan orang-orang yang berpikiran lemah dan untuk menarik perhatian orang ramai kepadamu. Barang siapa berbuat demikian, maka dia dalam neraka” HR. Ibnu Majah. Sayyidina Umar Bin Khattab Ra berkata,”Yang paling saya takutkan atas umat ini adalah orang munafik yang berilmu.” Lalu beberapa orang berkata,”Bagaimana bisa demikian?” Sayyidina Umar Bin Khotob Ra menjawab,”Mereka berilmu di lidah saja namun tidak di hati dan perbuatan.” Beberap hadits tersebut menunjukkan betapa besarnya bahaya ilmu, yaitu ilmu yang tidak bermanfaat. Orang yang berilmu hakikatnya berada di antara dua kemungkinan. Adakalanya mereka menderita kebinasaan abadi atau bisa pula kebahagiaan abadi. Tergantung apakah dia bisa memperoleh manfaat dengan ilmunya atau ilmunya malah menjadi mafsadat baginya. Terutama bagi para ahli ilmu yang memiliki kedudukan dan pengikut di kalangan umat. Tentu fitnah mereka lebih berbahaya. Jika mereka baik maka umat akan baik dan sebaliknya jika mereka rusak maka rusak pula seluruh umat. Dikatakan di dalam sebuah kalam hikmah, اِنَّ زَلَّۃَ الۡعَالِمِ كاَ السَّفِيۡنَۃِ تَغۡرَقُ وَيَغۡرَقُ مَعَهَا خَلۡقٌ كَثِيۡرٌ “Sesungguhnya kesesatan seorang Alim itu seperti sebuah bahtera yang tenggelam. Niscaya akan ada banyak makhluk yang ikut tenggelam bersamanya.” Imam Al-Ghazali Rhm. menjelaskan di ujung bab Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam kitab Ihya’ Ulumudin tentang rumus penting terkait jatuh bangunnya umat. Beliau menjelaskan bahwa rakyat rusak karena penguasa rusak, penguasa rusak karena ulama rusak, dan ulama rusak karena cinta harta dan kedudukan. Artinya rusaknya ulama ahli ilmu merupakan pangkal seluruh kerusakan. Maka untuk menyelamatkan sebuah generasi haruslah menyelamatkan ilmu yang dibawa oleh para penempuh dan pengajarnya. Dan itu semua harus dimulai sejak dini saat proses awal mencari ilmu. Maka berhati-hati di dalam menuntut ilmu itu sangat penting bahkan wajib ditanamkan semenjak tahap awal proses menuntut ilmu yakni mulai dari niat, adab dan cara menuntut ilmu tersebut. Sebab baik buruknya hasil ilmu ditentukan mulai dari awal proses kala menempuhnya. Sebagai pengingat agar kita berhati-hati di dalam menata niat saat menuntut ilmu ada baiknya kita merenungkan pendapat Syekh Ibnu Atho’ilah Assakandary Ra yang menyatakan, “Perumpamaan orang yang menuntut ilmu untuk mendapatkan dunia dan kedudukan adalah seperti orang yang mengangkat kotoran dengan sendok permata. Alatnya sungguh mulia, sementara isinya teramat hina.”Latha’if Al Minan Rahasia Yang Maha Indah; Belajar Hidup Berkah Dari Kekasih Allah, Halaman 65. Wallahu A’lam Bis Showab. Murid Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan

Orangyang memiliki ilmu memiliki keutamaan akan tinggi drajatnya baik di mata masyarakat maupun di mata Allah SWT. Allah SWT telah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman!
Jakarta - Surat Al-Mujadalah ayat 11 menjelaskan tentang anjuran untuk menuntut ilmu. Dalam ajaran Islam memang setiap umatnya diminta untuk menggali ilmu Al-Mujadalah atau kerap juga disebut Al Mujadilah adalah surat ke-58 dalam Al-Qur'an. Surat ini terdiri dari 22 ayat dan masuk dalam golongan surat surat Al-Mujadalah ayat 11, Allah SWT berfirman tentang perintah mendatangi majelis ilmu. Orang-orang beriman yang memiliki ilmu dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi di mata Allah SWT. Surat Al-Mujadalah ayat 11, Arab, Latin dan ArtinyaSurat Al-Mujadalah Ayat 11يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌArab-Latin Yā ayyuhallażīna āmanū iżā qīla lakum tafassaḥụ fil-majālisi fafsaḥụ yafsaḥillāhu lakum, wa iżā qīlansyuzụ fansyuzụ yarfa'illāhullażīna āmanụ mingkum wallażīna ụtul-'ilma darajāt, wallāhu bimā ta'malụna khabīrArtinya Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan1. Tafsir as-Sa'diMenurut tafsir as-Sadi oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, surat Al-Mujadalah ayat 11 menjelaskan tentang ajaran dari Allah untuk para hambaNya yang beriman ketika mereka berada dalam majelis perkumpulan, yang sebagian dari mereka ada orang yang baru datang meminta agar tempat duduk bersopan santun dalam hal ini adalah dengan memberikan kelonggaran tempat agar bisa diisi oleh orang-orang yang baru datang, bukan untuk mengganggu orang yang telah ada di tempat pun yang memberi kelonggaran memberi tempat, maka akan diberi kelonggaran oleh Allah, siapa pun yang memberi keleluasaan pada saudaranya, maka Allah akan memberinya keleluasaan."Dan apabila dikatakan, 'Berdirilah kamu'," artinya berdirilah dari tempat duduk kalian, karena adanya suatu keperluan mendesak, "maka berdirilah," maksudnya segeralah berdiri agar kemaslahatan tercapai, karena melaksanakan hal seperti ini termasuk bagian dari ilmu dan iman. Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu dan beriman berdasarkan ilmu dan keimanan yang Allah berikan pada mereka."Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Masing-masing diberi balasan berdasarkan amalnya. Perbuatan baik akan dibalas baik dan perbuatan buruk akan dibalas Tafsir KemenagMenurut tafsir Kemenag, ayat 11 pada surat Al-Mujadalah berisi perintah Allah kepada kaum muslim agar menghindarkan diri dari perbuatan berbisik-bisik dan pembicaraan rahasia, karena akan menimbulkan rasa tidak enak bagi muslim lainnya. Pada ayat ini, Allah memerintahkan kaum muslim untuk melakukan perbuatan yang menimbulkan rasa persaudaraan dalam semua orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu, dalam berbagai forum atau kesempatan, 'berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, agar orang-orang bisa masuk ke dalam ruangan itu, ' maka lapangkanlah jalan menuju majelis tersebut, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu dalam berbagai kesempatan, forum, atau apabila dikatakan kepada kamu dalam berbagai tempat, 'berdirilah kamu untuk memberi penghormatan, ' maka berdirilah sebagai tanda kerendahan hati, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu karena keyakinannya yang benar, dan Allah pun akan mengangkat orang-orang yang diberi ilmu, karena ilmunya menjadi hujah yang menerangi umat, beberapa derajat dibandingkan orang-orang yang tidak berilmu. Dan Allah mahateliti terhadap niat, cara, dan tujuan dari apa yang kamu kerjakan, baik persoalan dunia maupun Tafsir Quraish ShihabUlama tafsir Quraish Shihab juga menjelaskan ayat 11 salam surat Al-Mujadalah. Wahai orang-orang yang mempercayai Allah dan rasul-Nya, apabila kalian diminta untuk melapangkan tempat duduk bagi orang lain agar ia dapat duduk bersama kalian maka lakukanlah, Allah pasti akan melapangkan segala sesuatu untuk apabila kalian diminta untuk berdiri dari tempat duduk, maka berdirilah! Allah akan meninggikan derajat orang-orang Mukmin yang ikhlas dan orang-orang yang berilmu menjadi beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang kalian perbuat. Simak Video "Kartini, Islam dan Hadiah Pernikahan Tafsir Al-Qur'an" [GambasVideo 20detik] dvs/lus 4BC9.
  • 37bpw2xkir.pages.dev/29
  • 37bpw2xkir.pages.dev/413
  • 37bpw2xkir.pages.dev/56
  • 37bpw2xkir.pages.dev/136
  • 37bpw2xkir.pages.dev/573
  • 37bpw2xkir.pages.dev/187
  • 37bpw2xkir.pages.dev/389
  • 37bpw2xkir.pages.dev/41
  • kedudukan orang yang berilmu