Padakegiatan Outbound, peserta dilatih untuk dapat meningkatkan kemandirian, empati, teamwork, komunikasi, kepemimpinan, kesabaran, manajerial, dan lain sebagainya. Setelah melakukan outbound, terdapat poin-poin yang harus dicapai para peserta, yakni perubahan sikap dan karakter yang lebih baik daripada sebelum melakukan outbound.› Nusantara›Kelapa, Penyelamat Ekonomi... Sulawesi Utara didorong memaksimalkan produksi kelapa dan komoditas turunannya untuk memulihkan perekonomian daerah, salah satunya melalui ekspor. Namun, berbagai permasalahan di hulu harus diselesaikan. OlehKRISTIAN OKA PRASETYADI 4 menit baca KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI Salah satu perkebunan kelapa di Kima Atas, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara, Selasa 10/9/2019. Sebagian petani kelapa masih terikat kontrak ijon dengan perusahaan dan tengkulak sehingga terpaksa memproduksi KOMPAS — Sulawesi Utara didorong memaksimalkan produksi kelapa dan komoditas turunannya untuk memulihkan perekonomian daerah, salah satunya melalui ekspor. Namun, berbagai permasalahan di hulu harus diselesaikan terlebih dahulu, seperti memperbanyak bibit dan meremajakan tanaman demi meningkatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Utara Edwin Kindangen, Kamis 18/11/2020, mengatakan, ekonomi Sulut pada triwulan III-2020 menyusut 0,57 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu akibat pandemi Covid-19. Namun, dibandingkan dengan triwulan II-2020, kali ini terdapat pertumbuhan sebesar 7,01 persen. Industri pengolahan kelapa, kata dia, memainkan peran penting. Terdapat 16 perusahaan besar yang mempekerjakan orang dengan nilai investasi mencapai Rp 478,53 triliun. Industri kecil dan menengah IKM dengan total 416 unit usaha yang mempekerjakan 927 orang juga memainkan peran. Nilai investasinya mencapai Rp 3,4 triliun.”Porsi IKM di Sulut didominasi bidang pengolahan pangan. Mereka yang menyerap produksi kelapa di provinsi kita,” ujar Edwin, dalam ”Dialog Kemitraan Multipihak Bidang Komoditas Kelapa untuk Pemulihan Ekonomi Sulawesi Utara”, yang digelar Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas di Mapanget, Minahasa Januari-Oktober 2020, volume ekspor industri kelapa Sulut mencapai ton. Nilai ekspor pun menyentuh 163,46 juta dollar AS, lebih tinggi dari tahun 2019, sebesar 120,05 juta dollar AS. Produk yang dikirim ke luar negeri itu terbagi menjadi 14 jenis, antara lain minyak kelapa mentah, santan kelapa, dan bungkil jugaPetani Kelapa Tak Berdaulat di ”Bumi Nyiur Melambai”KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI Minyak kelapa murni dan kopra putih Sulawesi Utara dipamerkan dalam pertemuan antarpebisnis Sulut dengan Mindanao, Filipina, Selasa 29/10/2019, di pun mendorong pengusaha memanfaatkan fasilitas ekspor yang disediakan pemerintah, salah satunya ke Jepang melalui penerbangan kargo. Setelah delapan kali pemberangkatan, Sulut hanya bisa memasok produk perikanan, pertanian, dan perkebunan rata-rata 8,97 ton dari kapasitas maksimal 25 ton.”Masih banyak ruang yang belum termanfaatkan dan bisa diisi produk-produk kelapa kita. Saat ini, harga kopra juga sedang bagus, yaitu Rp per kilogram di tingkat pedagang pengumpul. Dari kacamata perdagangan, ini peluang yang harus dimanfaatkan,” kata Dinas Perkebunan Sulut Refly Ngantung mengatakan, saat ini rumah tangga pekebun di Sulut masih bergantung pada kelapa yang terdiri dari kelapa dalam dan kelapa hibrida. Setidaknya 96,96 persen dari hektar perkebunan kelapa di Sulut adalah perkebunan produktivitas kelapa di Sulut masih tergolong rendah, yaitu 1,26 ton per hektar dalam setahun. ”Produktivitasnya masih lebih rendah dari potensi maksimal yang bisa sampai 3 ton per hektar per tahun. Ini karena usia tanaman yang sudah tua, rata-rata 60 tahun, dan serangan hama,” itu, diperlukan upaya peremajaan dan memperluas lahan perkebunan dengan menyediakan bantuan bibit unggul bagi petani. Refly mengatakan, pihaknya berencana menanami kembali lahan tidak produktif seluas kira-kira hektar dengan kebutuhan lebih kurang 7,2 juta bibit produktivitas kelapa di Sulut masih tergolong rendah, yaitu 1,26 ton per hektar dalam OKA PRASETYADI Tumpukan buah kelapa di salah satu perkebunan kelapa di Kima Atas, Mapanget, Manado, Sulawesi Utara, Selasa 10/9/2019. Sebagian petani kelapa masih terikat kontrak ijon dengan perusahaan dan tengkulak sehingga terpaksa memproduksi kopra.”Diperlukan cara pembibitan secara modern. Tidak ada cara lain yang seefektif menggunakan teknologi genetik bibit unggul. Ini nantinya juga bisa menyelesaikan permasalahan kepemilikan petani akan lahan yang sangat sempit, rata-rata hanya 0,5-1 hektar,” Balai Penelitian Tanaman Palma Balitpalma Ismail Maskromo mengatakan, program peremajaan tanaman berjalan sangat lambat. Sangat sedikit investor yang mau terjun dalam bidang peremajaan karena kelapa baru berbuah setelah 4-5 tahun karena itu, pemerintah perlu memenuhi kebutuhan petani akan varietas kelapa yang bisa berbuah setelah 2-3 tahun dan lambat bertumbuh tinggi. Balitpalma telah berhasil mengembangkan varietas kelapa genjah entog kebumen, genjah pandan wangi, genjah kopyor pati, dan kelapa dalam bido morotai.”Buahnya besar-besar, tetapi pohonnya kecil. Varietas genjah entog, misalnya, bisa berbuah dalam dua tahun, sedangkan kelapa dalam bido morotai di bawah tiga tahun. Harga butirannya pun relatif lebih tinggi di pasar, bisa Rp per butir,” kata menambahkan, Balitpalma sedang mengembangkan metode perbanyakan secara massal. Kapasitas sumber daya peneliti pun ditingkatkan seiring dengan pengadaan laboratorium dan rumah kaca yang memadai. Balitpalma juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta dalam industri sedang mengembangkan metode perbanyakan secara massal. Kapasitas sumber daya peneliti pun ditingkatkan seiring dengan pengadaan laboratorium dan rumah kaca yang OKA PRASETYADI Ibu-ibu anggota kelompok tani Ezer Keneg’do mencuci daging buah kelapa sebelum diparut dan diolah menjadi minyak kelapa, Kamis 16/4/2020, di unit pengolahan minyak kelapa Ezer Keneg\'do, Desa Jayakarsa, Likupang Barat, Minahasa Utara, Sulawesi saat yang sama, kata Ismail, diperlukan upaya untuk mendorong semangat pekebun dengan mendiversifikasi produk turunan selain kopra. Kelembagaan petani kelapa pun perlu diperkuat untuk mengatur produksi. Refly menambahkan, perlu dibentuk lebih banyak unit usaha pengolahan hasil untuk meningkatkan daya Jurusan Teknologi Pertanian Universitas Sam Ratulangi Dedie Tooy mengatakan, produksi kelapa di Sulut bisa didorong dengan memperkuat aspek kelembagaan, yaitu menjadikan kelapa sebagai komoditas unggulan superprioritas di Sulut. Petani kelapa juga bisa mendapat keuntungan lebih dari lahan dengan memanfaatkannya untuk menanam tumbuhan lain.”Di Bolaang Mongondow Utara sedang diupayakan memanfaatkan lahan kelapa untuk peternakan sapi, bekerja sama dengan perusahaan Australia. Upaya intercropping tumpang sari dengan produk lain perlu dicoba,” kata juga Sabut Kelapa Sulut Nyaris Tak Terjamah Industri EditorCornelius Helmy Herlambang
berikutini beberapa pengusaha kelapa yang dapat dihubungi,siapa tahu bisa memperluas relasi dan jangkauan bisnis kita bersama Daftar Penjual/Pembeli Kelapa Tua Banyumas Rahmat 081212122721 Kebumen Ali WA 081287621993 Blitar Hendra 081254678664 Malang Luluk 082132876024 Jawa Tengah Aji 081289525269
Bursa Efek Indonesia kedatangan perusahaan pengolahan minyak kelapa pada akhir tahun lalu, yakni Indo Pureco Pratama. Baru berdiri dua tahun, emiten ini dikenal dengan penjualan produk olahan kelapa pertama mereka, yaitu Virgin Coconut Oil VCO. Berdasarkan data RTI Business, selama sebulan terakhir harga saham IPPE sudah melonjak 186,4 %. Indo Pureco melantai di BEI sejak 9 Desember 2021. Perusahaan ini menawarkan satu miliar lembar saham atau setara 21,74 % dari total saham perusahaan dengan harga Rp 100 per lembar. Hingga hari ini, IPPE memiliki kapitalisasi pasar Rp 2,13 triliun. Pertengahan Februari ini, emiten dengan kode saham IPPE itu masuk pantauan unusual market activity UMA BEI, lantaran pergerakan harga saham yang terlampau tinggi. Kondisi tersebut membuat harga saham IPPE sempat melandai. Adapun per Rabu 23/2 saham Indo Pureco ditutup turun 6,92 % ke level Rp 498 per lembar, dari perdagangan sebelumnya Rp 535. Pemegang saham Indo Pureco terbesar adalah PT Lembur Sadaya Investama dengan jumlah 1,62 miliar lembar saham atau setara 35,22 %. Kemudian, PT Sapihanean Pangan Lestari memegang 1,45 miliar lembar yang setara dengan 31,67 % saham perusahaan. Publik berada di posisi ketiga dengan porsi 21,85 % atau 1 miliar lembar saham. Perusahaan pengolahan kelapa ini dipimpin oleh Komisaris Utama Tresna Setia Budi, seorang lulusan Kedokteran Hewan dari Universitas Airlangga tahun 1997. Kariernya dimulai sebagai seorang field technical support di PT Medion Farma sejak 1999 hingga 2003. Tresna juga pernah menjadi Head of Region di wilayah Sumatera Utara ketika bekerja di PT Indojaya Agrinusa Japfa Comfeed Group dari 2013 hingga 2017. Sebelum didapuk menjadi komisaris utama, jabatan terakhirnya adalah Head of Region di wilayah Pekanbaru, Balikpapan, dan Samarinda di PT Intertama Trikencana Bersinar pada 2017. Direktur Utama Indo Pureco Pratama Syahmenan. Dia memegang dua gelar sarjana di waktu yang sama, yaitu Sarjana Teknik Kimia dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta dan Sarjana Kimia dari Universitas Gajah Mada di tahun 1993. Syahmenan lama bekerja di PT Bakrie Brothers sebagai engineer hingga planning dan development dari 1995 hingga 1999. Melansir dari laman resmi perusahaan, jabatan terakhirnya sebelum menduduki Direktur Utama IPPE adalah direktur dari PT Tirta Daya Nusantara di 2010. Indo Pureco Akuisisi Perusahaan Senior Indo Pureco Pratama Indo Pureco Pratama Indo Pureco berdiri pada Maret 2019 di Subang, Jawa Barat dan dua bulan kemudian baru memulai penjualan produk olahan kelapa pertama mereka, yaitu Virgin Coconut Oil VCO. Meskipun terbilang perusahaan anyar, Indo Pureco berhasil mengakuisisi 99 % saham PT Agrindo Lestari Jaya ALJ. Perusahaan dengan kode saham IPPE ini mulai membeli lahan dan pada November 2020 mengakuisisi ALJ, perusahaan yang berdiri di Subang pada 2008. Agrindo Lestari memiliki lahan seluas hektare di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah yang akan dimanfaatkan Indo Pureco sebagai perkebunan kelapa untuk menopang bahan baku produk perusahaan. Indo Pureco sendiri sudah membangun pabrik dan instalasi mesin untuk melakukan diversifikasi produknya sejak Juni 2019. Pabrik Indo Pureco terletak di Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Hasilnya, pada September 2019 Indo Pureco memproduksi serta menjual tidak hanya VCO, juga Crude Coconut Oil CCO dan copra meal CM. Setahun kemudian, tepatnya pada September 2020, Indo Pureco mulai mencoba memperluas pabrik dan unit usaha. Hingga akhir 2020, Indo Pureco memiliki kapasitas produksi sebesar ton kopra per tahun. Kapasitas itu sudah berhasil diberdayakan sebesar 39 % atau setara ton kopra per tahun. Dengan dana IPO yang sudah diterima akhir tahun lalu, Indo Pureco berencana membangun satu pabrik baru di daerah yang sama dengan pabrik sebelumnya, namun fokusnya untuk memproduksi CCO. Olahan Kelapa a la Indo Pureco Salah satu keunggulan dari Indo Pureco Pratama yakni mengolah dan menjual kelapa, baik dari minyak hingga elemen kering berupa sisa ekstraksi kelapa. Ada tiga jenis minyak kelapa yang dijual Indo Pureco Utama, yaitu Virgin Coconut Oil VCO, Pure Coconut Oil PCO, dan Crude Coconut Oil CCO. VCO adalah hasil dari ekstraksi kelapa dan mengandung asam lemak yang dapat dijadikan sebagai suplemen bagi tubuh. Di mata pelanggan global, VCO memiliki citra sebagai minyak yang sehat, sebab dapat menurunkan kadar kolesterol dan obesitas. Minyak ini tinggi kandungan lauric acid, rendah kandungan PFA polyunsaturated fatty acid, dan tidak ada kandungan trans-fatty acid. PCO juga diperoleh dari hasil ekstraksi kelapa, namun fungsinya untuk menjadi minyak goreng. Untuk produk ini, IPPE lebih fokus untuk menjual kepada pelaku industri yang butuh bahan baku minyak goreng kelapa. Di sisi lain, CCO diperoleh dari daging kelapa dan berfungsi sebagai bahan baku produk lainnya, seperti VCO, minyak goreng, sabun, hingga kosmetik. Target konsumen CCO ini berada di wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, dan Jawa Tengah Sisa ekstraksi kelapa ini bernama copra meal CM, sebuah bungkil kelapa dari sisa kelapa kering atau kopra. CM digunakan sebagai bahan pakan ternak sebab tinggi akan protein. Untuk CM ini, IPPE fokus memasarkan di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat. Indo Pureco Pratama Indo Pureco Pratama Untuk memperoleh bahan baku berupa kopra atau kelapa kering, Indo Pureco mempunyai enam mitra yang tersebar di Manado, Riau, dan Jambi. Kehadiran anak perusahaan, yaitu ALJ di Kalimantan Tengah, menjadikan Indo Pureco optimisitis dapat memenuhi persediaan dan kualitas bahan baku kopra. Meski bahan baku berasal dari Sumatera dan Sulawesi, Indo Pureco memasarkan produknya di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Metode pemasaran yang digunakan sendiri adalah direct selling kepada pelaku industri yang membutuhkan minyak kelapa. Perusahaan menyatakan, terdapat 10 pelanggan yang berkontribusi besar terhadap pemasaran minyak kelapa Indo Pureco. Dari 10 pelanggan tersebut, 50 % atau lima di antaranya berasal dari Jakarta, sementara lainnya dari Bekasi, Banten, Subang, dan Tangerang Selatan.
Ima adalah seorang anak berusia 10 tahun yang bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit di Indonesia.. Ia membantu memanen buah sawit yang diolah untuk dijadikan produk merek makanan dan kosmetik di luar negeri yang terkemuka. Ima termasuk di antara puluhan ribu anak yang bekerja bersama orang tua mereka di Indonesia dan Malaysia. Kelapa adalah salah satu komoditas ekspor utama Indonesia, banyak sekali perusahaan dan pabrik asing yang membuka cabangnya di Indonesia dan membutuhkan pasokan yang sangat banyak. rata-rata satu pabrik minimal membutuhkan daging kelapa minimal 50 ton per kelap sangat banyak sekali, pembisnis bisa menjualnya secara gelondongan, kupas, dalam bentuk meat/daging, dalam bentuk tepung kelapa, dalam bentuk minyak kelapa, santan, batok kelapa dan banyak Tuayang perlu diperhatikan dalam usaha kelapa ini adalah market yang jelas, pasar lokal maupun ekspor. berikut ini beberapa pengusaha kelapa yang dapat dihubungi,siapa tahu bisa memperluas relasi dan jangkauan bisnis kita bersamaDaftar Penjual/Pembeli Kelapa TuaBanyumasRahmat 081212122721Kebumen Ali WA 081287621993BlitarHendra 081254678664MalangLuluk 082132876024Jawa TengahAji 081289525269adapun penghasil kelapa terbesar untuk daerah indonesia adalah daerah pekanbaru, riau, sulawesi, kalimantan, lampung,biasanya dari daerah tersebut langsung diekspor kenegara lain. hal yang perlu dikembangkan di indonesia adalah pembuatan pabrik baik itu pabriktepung kelapa, pabrik briket, pabrik sabut kelapa, cocofiber, pabrik minyak kelapa, dan masih banyak lainnya. RumahSabut merupakan Perusahaan yang ada dibawah induk CV.Lingkar Cipta Madani adalah sebuah perusahaan yang menyediakan berbagai macam produk olahan sabut kelapa seperti tali sabut kelapa (Cocofiber, Coir Rope, Cocomesh / Coir Geotextile, Cocosheet, Coir Roll, matrass dan lain-lain). Didirikan sejak tahun 2008 oleh bapak Mansur Mashuri, ST. xor4W0.